Grameen Bank-nya Muhammad Yunus

Ketika Sabtu malam (kemarin lusa) saya ‘kembali ke laptop’ (kulonuwun pak De Tukul, saya pinjam kata kuncinya nih) dan mulai membuka file-file kuliah, mencari-cari dimanakah gerangan update-an tesis, saya menemukan beberapa ‘catatan pelajaran’ yang berharga untuk di-share. Saya lupa mata kuliah Leadership dapat di semester berapa, tapi saya ingat mata kuliah ini merupakan salah satu yang saya suka. Banyak pencerahan yang saya terima dari para instruktur kelas leadership, instrukturnya terdiri dari Robby Djohan, Anh Dung (Andy) Do, dan Arman Harijanto. Nah, tugas UASnya berupa paper membahas topik pertanyaan sebagai berikut:

Please choose an Indonesian or foreign leader (in any field, such as business, politics, social, religious, etc.) which you admire. Please describe his/her traits of character, analyze and comment on his/her vision, mission and style of leadership. Please explain the reasons for his/her successes and/or his failures. Please also explain what he/she has made as meaningful contribution to the company, and/or society.

Entah kenapa saat itu saya agak kesulitan mencari seorang tokoh pemimpin Indonesia (yang masih hidup, kalo yang sudah meninggal sempat terpikir M. Natsir – saya mengagumi beliau). Akhirnya saya memutuskan memilih salah satu tokoh leader dari Bangladesh yaitu Muhammad Yunus. Lalu mengalirlah pembahasan mengenai beliau sebagaimana saya sadur dari tugas paper UAS leadership saya (saat saya membuat paper ini Muhammad Yunus belum meraih penghargaan Nobel).

Salah satu tokoh yang saya kagumi adalah seorang ekonom dari Bangladesh yang mendirikan bank yang memberikan kredit mikro bagi rakyat miskin. Simpati saya kepada beliau adalah karena kepeduliannya dengan kondisi sekelilingnya dan tindakan nyata yang dilakukannya dalam rangka merubah hidup dan memandirikan rakyat miskin tersebut.

Beragam seminar sudah digelar dan telah banyak penelitian dilakukan dengan tujuan mencari cara efektif mengentaskan kemiskinan. Berbagai program yang memanfaatkan bantuan pemerintah dalam maupun luar negeri telah dijalankan untuk menghapus kemiskinan.
Tetapi, ternyata kemiskinan masih saja bisa ditemui di mana-mana. Inilah yang menjadi perhatian khusus dari tokoh yang saya kagumi. Kemiskinan di negaranya, Bangladesh, telah mendorong Professor Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank (village bank - Bank Pedesaan). Ternyata Bank ini sukses besar tidak hanya dalam kontribusinya mengurangi kemiskinan di Bangladesh, tetapi juga dalam meraih keuntungan dari kredit yang disalurkan.

Muhammad Yunus (lahir tahun 1940) adalah seorang doktor ilmu ekonomi dari Bangladesh yang menggagas konsep ’kredit mikro’, yaitu pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam dari bank umum. Yunus mengimplementasikan gagasan ini dengan mendirikan Grameen Bank. Namanya adalah personifikasi dari Grameen Bank Bangladesh yang kiat-kiatnya dalam mengentaskan kemiskinan dan memberdayakan perempuan banyak direplikasikan oleh berbagai Lembaga Keuangan Mikro di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Grameen Bank yang mulai merintis pelayanan keuangan pada rakyat miskin itu, terutama kepada para perempuan miskin, kini kliennya mencapai 3,2 juta keluarga miskin. Dari penelitian yang dilakukan, dilaporkan 42% keluarga yang dilayani telah keluar dari kemiskinan (2001).

Yunus belajar di Chittagong Collegiate School dan Chittagong College. Kemudian dia mendapat beasiswa Fulbright dan melanjutkan ke jenjang Ph.D. di bidang ekonomi di Universitas Vanderbilt, Nashville, Tennessee pada tahun 1969. Segera setelah menyelesaikan kuliahnya, ia bekerja di Universitas Chittagong sebagai dosen pada bidang ekonomi. Tahun 1972 dia menjabat sebagai Kepala Departemen Ekonomi di universitas tersebut.

Saat Bangladesh mengalami bencana kelaparan (1974), Yunus terjun langsung memerangi kemiskinan dengan cara memberikan pinjaman skala kecil kepada mereka yang sangat membutuhkan. Ia yakin pinjaman yang sangat kecil tersebut dapat membuat perubahan yang besar terhadap kemampuan kaum miskin untuk bertahan hidup. Pada tahun 1983, Yunus mendirikan Grameen Bank yang memberikan pinjaman kepada rakyat miskin. Hingga saat ini, Grameen Bank telah menyalurkan pinjaman lebih dari 3 billion dollar kepada sekitar 2,4 juta peminjam. Untuk menjamin pembayaran hutang, Grameen Bank menggunakan sistem ’kelompok solidaritas’. Kelompok-kelompok ini mengajukan pinjaman bersama-sama dan setiap anggotanya berfungsi sebagai penjamin bagi anggota yang lainnya sehingga mereka dapat berkembang bersama-sama. Prinsipnya adalah kepercayaan dan solidaritas.

Saat ini di Bangladesh, Grameen telah memiliki 1.084 cabang dengan 12.500 karyawan yang melayani 2,1 juta peminjam di 37.000 desa. Tingkat pengembalian pinjaman sebesar 98% merupakan rate tertinggi dibanding sistem perbankan manapun. Metode Grameen diterapkan dalam proyek-proyek di 58 negara termasuk AS, Kanada, Perancis dan Norwegia.

Saat ini selain Grameen Bank, ia memiliki Grameen Phone, Grameen Cybernet, Grameen Communications, Grameen Software company, Grameen Information Technology Park, Grameen Fund, Grameen Capital Management company, Grameen Textile company, Grameen Knitwear company, Grameen Renewable Energy company, Grameen Health company, Grameen Education company, Grameen Agriculture company, Grameen Fisheries and Livestock company, Grameen Business Promotion company .

Karakter Muhammad Yunus:

Muhammad Yunus merupakan teladan pribadi yang hebat. Dia mampu merasakan adanya kebutuhan orang-orang disekitarnya. Lantas ia menanggapi bisikan hati nuraninya dengan memanfaatkan ilmu, empati serta cintanya yang besar terhadap kemanusiaan dan kehidupan. Yunus menjawab kebutuhan banyak orang di sekelilingnya dengan solusi sederhana. Yunus menemukan suara panggilan jiwa dan mengilhami orang lain untuk menemukan kemerdekaan jiwa dan harga diri mereka. Muhammad Yunus, memprakarsai pendirian bank untuk kaum miskin ini melalui keprihatinannya terhadap perjuangan kaum pengrajin. Mereka menopang hidup dengan membuat barang kerajinan tapi untungnya sangat minim karena bahan baku diperoleh dari agen yang kemudian menentukan harga jual produk sesuai yang ditetapkan. Keprihatinan Yunus ditindaklanjuti dengan pendirian Grameen Bank -– yang tentu juga melalui proses perjuangan yang panjang -– dengan fokus untuk membantu kehidupan kaum miskin, bahkan pengemis.

Sosok ibu merupakan figur yang berpengaruh dalam kehidupan Muhammad Yunus. Ketika dia tumbuh dewasa dia melihat ibunya sering membuat perhiasan yang kemudian dijual dan sebagian uangnya diberikan kepada kerabat yang miskin. Hal ini menumbuhkan kesadaran pada diri Yunus bahwa hidup berkecukupan dan merasa cukup dengan apa yang ada, memungkinkan membantu orang lain yang kekurangan. Diantara sifat dan karakter Yunus adalah rendah hati, hidup sederhana yang berkecukupan (tak berlebihan), memiliki keyakinan kuat (keyakinan untuk berhasil) yang memompakan energi dan semangat luar biasa untuk berjuang meraih keberhasilan yang diyakininya tersebut. Masalah, hambatan, kesulitan, bahkan krisis ekonomi sekalipun tidak bisa mematahkan semangatnya untuk meraih keberhasilan.

Leaders’ Competence (Kompetensi Yunus sebagai seorang Pemimpin):

  1. The Mind:

§ Intelligence

Sebagai seorang professor ilmu ekonomi tentu Muhammad Yunus menguasai teori tentang membangun kekayaan dan kesejahteraan ekonomi

§ Pragmatic

Ilmu ekonomi yang dipelajarinya disesuaikan dengan kehidupan nyata disekitarnya karena Yunus merasa pelajaran yang diberikan kepada mahasiswanya tidak sejalan dengan kenyataan. Setiap dia keluar kampus selepas mengajarkan tentang ekonomi modern dia mendapati kesulitan yang dihadapi masyarakat

§ Integrity

Empati dan kepeduliannya yang besar cukup untuk menunjukkan bahwa Muhammad Yunus memiliki integritas sebagai seorang pemimpin

§ Self Confidence

Kepercayaan dirinya membuatnya mampu dan sukses membangun bank untuk rakyat miskin dan mengubah sistem dan prosedur perbankan yang sudah ada.

  1. Skills and Experience:

§ Technical dan Conceptual Skill

Yunus memiliki keahlian tehnis dan konsep untuk membangun ekonomi rakyat miskin dengan memandirikan mereka melalui pemberian pinjaman untuk modal

§ Social/Human Skill

Interaksinya dengan rakyat miskinlah yang menjadi pemicu dirinya untuk mendirikan Grameen Bank. Mulanya ia menanyai orang-orang miskin namun masih mau berusaha itu, hingga ia mendapat simpulan bahwa mereka membutuhkan modal. Dan lebih dari itu modal yang mereka butuhkan tidak besar, iapun mampu membantunya. Itulah awalnya Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank, yaitu bank yang memberikan pinjaman kepada kaum miskin Bangladesh tanpa jaminan.

  1. Behavior:

§ Trust. Kepercayaan merupakan dasar Yunus mau memperjuangkan pinjaman bagi rakyat miskin dan menjadi prinsip dasar Bank Grameen

§ Team Work. Solidaritas merupakan prinsip dasar kedua setelah trust. Yunus berpendapat bahwa kemandirian dan kesejahteraan harus dinikmati bersama

§ Respect. Bagi Yunus kemiskinan adalah hal yang tidak perlu karena itu rakyat miskin perlu diberi kesempatan untuk mendapat pinjaman untuk memberdayakan hidupnya dan mengangkat harga dirinya

§ Risk. Memberikan pinjaman kepada seseorang tanpa jaminan merupakan satu resiko yang harus dihadapinya. ‘To hope is to risk pain. To try is to risk failure. But risk must be taken, because the greatest hazard in life is to risk nothing’ (Leo F Buscaglia; 1924-1998)

Visi, misi dan gaya kepemimpinannya:

Sebagai seorang pemimpin yang visioner, Yunus memiliki impian:

’Kita mampu mewujudkan apa yang ingin kita wujudkan. Bila kita gagal mencapai sesuatu, kecurigaan saya yang pertama adalah keseriusan dan intensitas kita dalam mewujudkan keinginan tersebut. Saya sangat percaya bahwa kita mampu menciptakan sebuah dunia yang bebas dari kemiskinan, kalau kita mau….Dalam dunia semacam itu, satu-satu tempat dimana kita akan dapat menyaksikan kemiskinan adalah di museum. Pada suatu hari nanti, ketika anak-anak sekolah berkunjung ke musium kemiskinan, mereka akan terkejut menyaksikan kesengsaraan dan penderitaan umat manusia pada masa lalu’.

Itulah keyakinan dan mimpi yang dimiliki oleh seorang Muhammad Yunus.

Visinya adalah mengurangi sebisanya kemiskinan di dunia. ’Can we really create a poverty free world?’ Ya, ujar Muhammad Yunus dan dia yakin dia memiliki kuncinya, yaitu kredit (pinjaman). Misinya adalah mengurangi kemiskinan di Bangladesh dengan mendirikan Bank untuk rakyat miskin. Lalu beliau turun ke lapangan, terlibat dan mencoba memahami karakteristik masyarakat. Melalui action research, tokoh intelektual tersebut lalu merumuskan konsep-konsep pengembangan masyarakat. Tak sampai di situ saja, beliau juga meyakinkan pihak pemerintah, lembaga keuangan, dan lembaga (donor) internasional. Menurutnya, pinjaman atau kredit merupakan harapan terakhir bagi rakyat miskin. Yunus yakin bahwa hak untuk mendapat pinjaman harus diakui sebagai sebuah hak asasi manusia. Perhatian pada kemiskinan mulai muncul ketika Yunus kembali ke negaranya setelah meraih gelar doktor ekonomi dari Universitas Vanderbilt di Amerika Serikat. Setelah mengabdi di bidang pendidikan sebagai tenaga pengajar di berbagai universitas, Yunus merasa bahwa ilmu yang dibagikannya tidak bisa langsung berdampak pada pengurangan kemiskinan di negaranya yang makin menghebat. Kemudian ia mulai meneliti sebab-sebab kemiskinan yang dihadapi bangsanya. Ternyata, dari hasil penelitian terungkap bahwa sebagian besar pengusaha di Bangladesh kekurangan dana untuk produksi, sehingga mereka terpaksa meminjam dari rentenir dengan bunga tinggi, dan menjual barang produksi mereka ke rentenir tersebut yang lalu membelinya dengan harga murah. Masalah ini bisa terpecahkan jika ada lembaga keuangan yang bisa membantu. Dari kondisi inilah timbul ide untuk mendirikan Bank untuk membantu masyarakat pedesaan keluar dari masalah ekonomi mereka. Bisnis dengan tujuan mulianya ini ternyata didukung banyak orang, sehingga berjalan dengan sukses.

“Every change begins with a vision and a decision to take action”. Demikian kata David Bornstein. Cara pandang itu tentu bukan hanya ada di kepala para usahawan, melainkan juga para relawan yang berjuang dengan penuh dedikasi.

Sebagai pemimpin, Yunus menciptakan kesempatan, dia merupakan visionaris yang mementingkan kebutuhan rakyat miskin dan perubahan agar mereka lebih mandiri. Dia optimis dan mau berinteraksi dengan kaum bawah. Ilmunya didedikasikan untuk kemandirian ekonomi rakyat.

Alasan kesuksesannya dan atau kegagalannya
:
Dalam literatur tentang social change, kendati mereka melakukan perubahan yang sangat mendasar bagi masyarakat, mereka tidak pernah dianggap sejajar dengan Bill Gates atau Henry Ford yang mendatangkan banyak lapangan kerja. Masalahnya, teori-teori perubahan sosial lebih berkonsentrasi pada bagaimana ”ideas move people” daripada bagaimana ”people move ideas”.
Jadi bagi mereka, ide adalah segala-galanya. Padahal dunia ini baru akan berubah kalau ada orang yang bergerak, menggerakkan dan memelihara gerakan itu. Itulah yang dilakukan oleh Social Entrepreneur (Rhenald Kasali, 2005). Muhammad Yunus termasuk salah satunya.
Namun dalam literatur yang saya baca saya kurang melihat adanya penerus dari kepemimpinan Yunus ini sehingga ada kekhawatiran yang timbul bahwa Grameen group terutama Grameen bank di masa depan tidak seefektif saat ini.

Kontribusinya bagi masyarakat sekitarnya:

Solusi terbaik bagi masalah yang ada adalah kunci untuk jaman ini. Jika ingin membantu orang keluar dari masalah kemiskinan, jangan beri ikannya, tetapi berilah pancingnya. Prinsip inilah yang diterapkan oleh Yunus dalam membangun bisnisnya. Walaupun bisnisnya diilhami oleh keinginan mengentaskan kemiskinan, bukan berarti bank yang dikelolanya tersebut beroperasi tanpa profesionalisme. Sebaliknya, profesionalisme diterapkan dengan disiplin tinggi, sehingga Grameen menjadi bank yang secara komersial menguntungkan bagi pemiliknya, karyawannya, dan yang terlebih lagi adalah bagi para nasabahnya (yang pada umumnya adalah nasabah peminjam). Nasabah di Grameen tidak sekedar diberikan pinjaman saja, tetapi juga dibimbing dalam mengembangkan bisnis mereka dan dalam menyusun rencana strategis untuk meraih sukses dalam bisnis. Yunus menganjurkan para peminjam untuk membentuk tim yang terdiri dari lima pelaku bisnis yang secara rutin bertemu. Lima orang dalam tim ini menjadi mitra bisnis yang saling memberikan masukan, berbagi pengalaman, dan menentukan jumlah dana yang bisa digalang sendiri dan dana yang harus dipinjam dari bank, serta kapan pinjaman bisa dikembalikan. Cara ini terbukti efektif untuk membantu para pelaku bisnis untuk melewati garis kemiskinan dalam waktu sepuluh tahun setelah pinjaman pertama mereka.

Tujuan bisnis yang mulia serta pinjaman yang disertai solusi bisnis bagi para nasabah telah membawa Grameen, bank dengan 12.000 karyawan yang didirikan dan dipimpin oleh M. Yunus menjadi bank yang berperan penting dalam perekonomian rakyat Bangladesh, dan Bank dengan prestasi komersial yang baik.

Kutipan:

If I could be useful to another human being, even for a day, that would be a great thing. It would be greater than all the big thoughts I could have at the university. (Muhammad Yunus)

I only wish every nation shared Dr Yunus’ and the Grameen Bank’s appreciation of the vital role that girls and women play in the economic, social and political life of our societies. (US First Lady Hillary Clinton)

By giving poor people the power to help themselves, Dr Yunus has offered them something far more valuable than a plate of food. He has offered them security in its most fundamental form. (Former US President Jimmy Carter)

Sumber:

- Financial Times. December 6, 1998. London

- Finance & Development. March, 2000. USA.

- Marshall & Molly G. Sashkin, Leadership That Matters (Berrett-Koehler Publishers, 2003)

- Muhammad Yunus, Banker to the Poor: The Autobiography of Muhammad Yunus, Founder of Grameen Bank (Oxford University Press)

- Stephen R Covey, The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness

- Rhenald Kasali, Social Entrepreneur (www.detik.com/kolom/rhenald)

- The Times. November 27, 1998. London.

- The Guardian. December 6, 1998. London.

- Warren Bennis & Burt nanus, Leaders (New York: HarperBusiness, 1997)

- Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia

- www.bmm-online.org

- www.rahima.or.id

- www.sinarharapan.co.id/mandiri

- www.pikiran-rakyat.com

2 komentar:



Muttakhidul Fahmi, mengatakan...

Mengapa harus Muhammad Yunus yang mendapat nobel? heheheh

Seorang temanku yang pernah bertemu dengan Muhammad Yunus dalam sebuah seminar bercerita bahwa model pendampingan usaha terhadap masyarakat Bangladesh yang hampir semuanya perempuan itu, sebenarnya disadur dari model pendampingan Bank BRI di Indonesia, tetapi sudah dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi lebih efektif den efisien.

Lalu, aku bertanya, "BRI kapan Mas?"
"BRI sekitar awalk Orde Baru, sekitar 1968-1970," jawab temanku.

Aku sendiri tak tahu, mengapa kemudian Muhammad Yunus bisa lebih hebat dari orang Indonesia? hehehe

SusuKopi mengatakan...

coba baca link saya ini deh :D

http://www.susukopi.web.id/2010/01/greemen-bank-dan-bank-syariah-indonesia.html