Satu Episode Kehidupan Muslimah Biasa

Ia adalah sesosok muslimah biasa. Jalan hidupnya pun biasa-biasa saja. KeMahaBesaran Allah jua yang menjadikannya senantiasa dilimpahi nikmat dan kemudahan dalam hidupnya. Ia bukanlah muslimah yang pintar, namun lagi-lagi Allah memudahkannya dapat mengecap pendidikan sejak TK hingga Pascasarjana, semuanya di institusi pendidikan yang cukup bergengsi di Indonesia dan lulus dengan tidak mengecewakan. Berbekal pendidikan itu pula ia memperoleh pekerjaan di perusahaan-perusahaan yang cukup besar dalam industri jasa keuangan. Dan sudah pasti karena Rahman-nya Allah setiap pekerjaan ia peroleh dengan cara yang mudah, layaknya keberuntungan saja.

Tak cuma pekerjaan, bahkan ihwal jodoh sang muslimah didapatkan melalui jalan yang sederhana dan tidak rumit. Permintaan ta’aruf, istikhoroh, beberapa pertemuan dikawal tim sukses dari pihak sang muslim yang berlanjut khitbah dan walimatul ’ursyi. Mengingati perjalanan jodoh tersebut laiknya kisah dalam sinetron saja yang dilalui muslimah ini. Ah, andai ia diberi kesempatan dan kemampuan, mungkin akan dituangkannya dalam bentuk cerpen cinta berbingkai keindahan cinta-Nya. Seorang suami yang hanif insyaAllah cocok untuk menjadi imam yang setia pula menjadi teman belajar dalam menata keluarga samara. Amiin Allahumma amiin, demikian muslimah mengaminkan kalimat diatas. Kisah muslimah dengan sang imam kemudian adalah kisah luarbiasa seiring turunnya karunia dan amanah kunci surga berupa bidadari-bidadari yang dikirim bagi mereka dari taman surga.

Dengan limpahan nikmat yang dikaruniakan Allah padanya, ia merasa syukurnya belum seberapa. Masih banyak yang harus ditunaikan untuk mensyukuri segala nikmat tersebut. Selama ini baru sebatas syukur jangka pendek yang diwujudkannya. Jauh dilubuk hati muslimah biasa terbetik keinginan untuk mewujudkan syukur jangka panjang, sepanjang hayat di kandung badan. Namun tak seorang manusia pun yang tahu panjang pendek sisa umurnya bukan? Sehingga muslimah memaknainya sebagai syukur yang kontinyu, tanpa lelah dan pamrih, karena Sang Maha Kaya dan Perkasa pun tak pernah pamrih akan kasih-Nya.

Kiranya bentuk syukur sederhana terurai berikut yang menjadi pengharapan sang muslimah. Karena sadar bahwa kapasitas keilmuan dunia apalagi akhiratnya bukanlah apa-apa jika Yang Maha Pemberi Ilmu tidak mengijinkannya mengetahui melainkan sedikit, maka yang bukan apa-apa itulah yang akan dibagikannya secara cuma-cuma kepada sesiapa yang memerlukan. Selain itu, rupanya kekaguman sang muslimah kepada Ummul Mukminin Khadijah al Kubra, membuatnya berharap ia dapat meniti jalan yang sama yang dilalui beliau. Kenangan terindah, itulah Khadijah, sebagaimana sabda suaminya tercinta, Rasulullah:....Ia beriman padaku ketika semua manusia ingkar. Ia membenarkanku ketika seluruh manusia mendustakan. Ia membantuku dengan hartanya ketika semua manusia menahan harta mereka...” (HR Ahmad).

Betapa ingin sang muslimah menjadi kenangan terindah disisi keluarganya bahkan teman dan siapa pun yang mengenalnya. Terbayang seandainya ia dapat berbagi apa yang diamanahkan padanya saat ini, ilmu-harta-tenaga-waktu tanpa berkalkulasi konsekuensinya. Ilmu tentu takkan habis meski dibagi-bagi kepada sebanyak-banyak manusia, dan ilmu harus tetap dipelajari karena sesungguhnya sebanyak-banyak ilmu yang diketahui manusia hanya sedikit. Muslimah berandai ia berani mengambil tantangan menyemai majelis-majelis dzikir dan ilmu, mengkaji ayat-ayat qauniyah dan qauliyah bersama sesama manusia disekitarnya.

Dan bersedekah, muslimah yakin sedekah akan melunturkan dosa dan khilaf yang diperbuatnya sebagai anak, istri, ibu dan manusia biasa. Muslimah biasa tidak memungkiri bahwa dunia ibarat air laut, hanya menambah dahaga. Sementara membagikan nikmat kepada yang lebih berhak ibarat memberi seteguk air pelepas dahaga bagi musafir, pastilah menimbulkan efek balik kenikmatan yang lebih. Dan bukanlah efek balik yang diharapkan sang muslimah, insyaAllah, menjumpai prosesnya saja adalah sebuah nikmat dan pencapaian yang besar atas pengharapannya.

Terkesan akan kecintaan Rasulullah pada anak yatim dan dhuafa, sang muslimah pun menginginkan yatim dan dhuafa sebagai karibnya. Alangkah damainya jika yatim dan dhuafa memiliki saudara bercerita dan berempati sehingga dunia menjadi ladang garapan bersama yang siap ditanami bibit amal saleh dan ibadah sebagai bekal akhirat kita sebagai manusia, demikian asa muslimah biasa. Dan hari-hari muslimah biasa selanjutnya adalah usaha dan do’a, agar Allah Penguasa Semesta meridhoi saat hidup dan matinya.

2 komentar:



ErwIEn rIDdtha mengatakan...

Ceritanya bagus bun... Q mau ucapin happy new year 2009 yah.. N sukses selalu buat kmu..

Meidy mengatakan...

Duuuhhh senengnya.. hadiah awal tahun ya bun..