Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan

Kembangkan Diri Anda, Jika Tidak Matilah!

Oleh: Tim Dakwatuna.com

Tanmiyah
(perkembangan) asal katanya dari namaa yang bermakna terus bertambah banyak dan makna lainnya adalah tumbuh secara fisik bak tumbuh-tumbuhan dan jasad manusia. Akan tetapi istilah tanmiyah ini biasa digunakan pada bidang ekonomi dan perindustrian di masa kiwari. Dan orang selalu melekatkan pengembangan ini dengan pengertian ke arah industri dan perekonomian. Dalam ungkapan masyarakat modern saat kini istilah tanmiyah sering disebut dengan ‘pertumbuhan bidang pertanian, ekonomi, industri dan perbankan’.

Ajaran Islam memandang bahwa pengertian tanmiyah mencakup semua bidang garapan kehidupan. Karena kehidupan ini menurut ajaran Islam senantiasa berkembang secara sempurna, bertahap dan seimbang. Bahkan sudah menjadi kemestian di alam semesta ini (hatmiyatul alamiyah). Sebab itu jika tidak ada perkembangan dalam hidup ini maka hidup ini dinilai stagnan, mundur dan terbelakang dan hal kemudian dapat menyebabkan cepat binasa. Karena itu Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam Ar Raqaiq menyatakan bahwa ‘bila tidak ada jalan tanmiyah maka yang ada hanyalah jalan menuju kejumudan’.



Dalam pandangan Islam, At Tanmiyah merupakan pemahaman yang universal dan sempurna. Dan kedudukan tanmiyah ini sebagai pembangun motivator untuk merealisasikan keuniversalan ajaran-Nya. Sebagaimana dalam arahan Rasulullah saw. tentang dinamika waktu. Beliau menyatakan, “Siapa yang hari esok dan hari ini sama dengan hari kemarin sungguh ia telah merugi.” Arahan itu semakin memperbesar voltase motivasi pengembangan hingga tidak lagi memperhitungkan efektivitas waktu sebagaimana juga dalam sabda Rasulullah saw., “Jika esok hari kiamat datang sedang di tangan seseorang ada sebuah bibit, maka tanamlah.”
Dalam riwayat lainnya, Umar Ibnul Khaththab r.a. memarahi seseorang yang masih berada di dalam masjid sementara yang lainnya sudah pergi ke tempat pekerjaannya masing-masing. Umar amat murka kepadanya dan menghadiknya, “Berdirilah kamu! Agama ini tidak akan mati oleh orang sepertimu, dan semoga Allah mematikanmu.” Kemarahan Umar ini lantaran orang tersebut stagnan dalam menjalani hidupnya. Bagai tak memiliki kemauan menyambut hidup. Tidak ada indikasi dinamika perkembangan hidup yang dijalaninya. Apalagi agama ini tidak hanya diselesaikan dengan memutar-mutar tasbih di atas sajadah saja. Melainkan perlu juga keluar untuk menyaksikan fenomena alam dengan segala karunia-Nya.

Tanmiyah dalam ajaran Islam mempunyai hubungan yang mutlak antara kemurnian ajaran ini dengan perkembangan jagat raya. Artinya bahwa perkembangan yang terjadi di alam semsta ini merupakan bukti keautentikan ajaran Islam yang dapat dipahami sebagaimana perjalanan zaman. Bukan pemahaman yang menyatakan bahwa perkembangan alam ini yang terus terjadi menjadikan ajaran ini perlu diaktualisasi agar dapat menjawab perkembangan zaman. Jelas pandangan ini amat keliru dan salah dalam menempatkan Islam sebagai ajaran samawi.

Seorang pujangga mengingatkan:
Zaman yang tak pernah henti berlari
Alam bergerak tak kenal lelah
Angin selalu menyapa bersama desiran kencangnya
Itu karna aturan Sang Perkasa Nan Kuasa
Mengatur dengan rapi dan elok
Tuk hidup sejahtera bagi alam raya

Aspek Tanmiyah Dalam Pandangan Tarbiyah Islamiyah

Tarbiyah sebuah upaya untuk mencapai pembentukan pribadi yang siap memikul tugas dakwah sesuai dengan tuntutan zaman. Sehingga senantiasa memproduk tokoh-tokoh masa terus menerus. Bagai pohon yang selalu panen tak kenal musim. Untuk itu tak bisa dihendari bahwa tarbiyah ini harus menghantarkan ke arah tanmiyah sesuai dengan dinamikanya. Al Ustadz Fathi Yakan dalam Nahwa As Shahwah Al Islamiyah Fi Mustawa Al Ashr memandang bahwa tanmiyah (perkembangan) dalam pandangan Tarbiyah Islamiyah harus mencakup beberapa aspek untuk memenuhi unsur tuntutan zaman, yakni:

1. Pengokohan Keimanan

Perkembangan yang mesti dimiliki orang yang beriman adalah pengokohan keimanan. Dan iman ini harus selalu tumbuh berkembang. Keimanan bagi orang mukmin mesti dalam grafik yang meningkat. Tidak boleh ada celah statis. Sehingga mereka berupaya agar dinamika iman ini terus berkembang. Tentu dengan memberikan komsumsinya yang selalu meningkat taraf kualitas dan kuantitasnya. Agar tidak ada kegagalan dalam keimanan. Sebab setiap ada kegagalan dalam menumbuhkan keimanan akan berdampak negatif dalam kehidupan, perilaku manusia, masyarakat dan keseluruhan dinamika umat.

Rasulullah saw. mengingatkan bahwa tidak akan mencuri, orang yang beriman, tidak akan berzina, orang yang beriman dan tidak akan berdusta, orang yang beriman. Tampaknya beliau memberikan format jelas kepada kita bahwa kegagalan tanmiyah bagi keimanan bisa berakibat buruk dan tidak akan terjadi keburukan selama keimanan ini berdiri tegar. Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa tamu dari Yaman terheran-heran menyaksikan kondisi Madinah yang lenggang saat shalat tiba. Penduduk Madinah meninggalkan begitu saja perniagaan, ladang perkebunan, dan rumah mereka. Tamu tersebut bertanya, “Apakah aman negeri ini sehingga mereka tinggalkan saja hartanya tanpa takut diambil orang?”

Begitulah ketika keimanan ini semakin kokoh. Siapa pun mereka tak akan merasa cemas bila keimanan tersebut masih berdiri kuat. Tapi sebaliknya kecemasan dan ketakutan menjadi pakaian mereka saat keimanan itu tidak lagi bersemayam di hati mereka. “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (An-Nahl: 112)

Oleh karena itu Allah swt. mengingatkan kita semua agar selalu meningkatkan stamina keimanan
dengan memperhatikan aspek tumbuh kembangnya melalui kiat-kiat yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Al-Anfaal: 2 - 3)

2. Perkembangan Ilmiah

Islam sangat memperhatikan perkembangan ilmiah. Semakin bergulirnya zaman semakin tumbuh kembangnya dinamika keilmuan. Ini selaras dengan kebutuhan yang dharuri dari hidup manusia. Bila kita cermati guliran waktu dapat kita temukan perkembangan ilmu. Saat ajaran Islam mulai merambah ke pelosok jazirah maka dengan itu berkembang pula dinamika ilmu. Demikian pula saat Islam menginjakkan kakinya di belahan dunia maka semakin pesat pula tumbuh kembangnya ilmu ini. Jadi semakin komplek masalah yang dihadapi manusia semakin berpeluang untuk berkembangnya. Yang pada masa dahulunya tidak ditemukan penyibakan misteri alam raya. Bila upaya penemuan problematika kehidupan makin memperlebar ruang berkembangnya ilmu.

Karena ilmu dalam prespektif Islam merupakan alat bantu kehidupan manusia. Dan yang lebih penting lagi adalah pintu paling luas untuk menuju keimanan dan mengetahui aturan-aturan Allah swt. Dan dengan ilmu pula dapat memikirkan penciptaan langit dan bumi sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan hingga mendekatkan dirinya pada Sang Maha Pencipta. Kondisi semacam itu bisa tercapai manakala perkembangan ilmiah ini semakin memperkuat nash-nash yang menjadi pijakan. Yang pada akhirnya menghantarkan keimanan dan ketakwaan pada Allah swt.

Islam menuntut umatnya untuk senantiasa memperbaharui ilmu dengan mencari dan mencari, meski ke tempat yang jauh. Sebagai bukti keperluan yang asasiyat dalam mengarungi hidup umat manusia. Imam Malik r.a. mengingatkan murid-muridnya dengan kata-katanya: ‘Al Ilmu yu’ta wa laa ya’ti, ilmu itu didatangi bukan mendatangi’. Ilmu merupakan hajat bagi perkembangan manusia dalam menaklukan alam semesta. Yang sebabnya alam ini tertundukkan untuk kemashlahatannya. Dengan ilmu kemudahan dan kelancaran hidup ini dapat diraih. Sehingga Rasulullah saw. menyamakan orang yang menuntut ilmu dengan mereka yang sedang berjuang. Bahkan selama perjalanannya untuk meraih ilmu pun dianggap sebagai perjalanan dalam perjuangan.

Oleh karena itu Allah swt. membedakan orang yang berilmu dengan mereka yang tidak berilmu. Pembedaan tersebut adalah hal yang wajar. Sebab ilmu yang dimiliki seseorang atau sebuah komunitas dapat meningkatkan harkat dan martabatnya. Seperti firman Allah swt. “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Az-Zumar: 9).

3. Peningkatan Ibadah

Perhatian Islam pada aspek ibadah yang dilakukan seorang mukmin juga amat besar. Ibadah yang dilakukan seorang mukmin harus meningkat secara kualitas dan kuantitas. Maka dengan itu orang yang beriman akan selalu berghairah dalam hidup dan bergeliat untuk menjalaninya. Kualitas dan kuantitas ibadah seorang mukmin sangat mempengaruhi kondisi jiwanya. Ketenangan dan kenyamanan hidup adalah buah yang selalu dipetik orang beriman lantaran ibadahnya. Dan yang lebih diutamakan dari peningkatan ibadahnya adalah pengaruh nilai hidup yang mereka dijalani dengan istiqamah dan loyal pada ajaran Allah swt. Yang karenanya Islam meyerukan agar mempertahankan kualitas dan kuantitas ibadahnya.

Ibadah yang telah ditetapkan dengan masing-masing aturan tentu mempunyai fungsinya masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ibadah wajib mempunyai fungsinya yang tak dapat digantikan dengan ibadah sunnah. Begitu pula dari ibadah sunnah yang beragam tidak dapat digantikan dengan yang lainnya. Karenanya orang beriman bersegera untuk selalu menunaikan ibadah dengan peningkatan kualitas dan kuantitasnya. “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami”. (Al-Anbiyaa’: 90)

Generasi para sahabat yang semoga Allah swt. memuliakan mereka dan meridhainya telah memberikan keteladanan dalam bersegera melakukan ibadah serta meningkatkan kualitasdan kuantitas ibadahnya. Lebih-lebih pada momen yang amat berharga semisal Rajab, Sya’ban, Ramadhan, dan Dzulhijjah. Mereka ingin mengukir kehidupannya dengan amal unggulan yang dapat menghantarkan dirinya meraih syura dan ridha-Nya. Sebab momen mahal itu mempunyai nilai istimewa dalam pandangan Allah swt.

Tidak mengherankan bila dikalangan para sahabat terjadi kompetitif dalam ibadah setiap harinya. Dalam pikiran mereka, jika dia dapat menunaikan sekian kali di hari ini maka besok saya harus lebih baik darinya. Bila hari ini dia menempati peringkat pertama dalam ibadah ini maka besok saya akan menduduki peringkat tersebut. Sebagaimana Umar ibnul Khaththab r.a. ingin mengalahkan kemampuan berinfaqnya Abu Bakar As Shiddiq r.a. Namun ternyata pada esok harinya Abu Bakar melebih target yang dicanangkan Umar.

4. Peningkatan Akhlak

Akhlak merupakan identitas keimanan dan menjadi simbol dari keyakinan jiwa. Sebab akhlak adalah tampilan luar dari iman. Apa yang dilakukan oleh anggota badan ini menjadi sinyal dari keimanan yang bersemayam di lubuk yang dalam. Itu pula yang dianggap bahwa semakin sempurna keimanannya semakin baik pula tampilan akhlaknya. Seperti sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya kesempurnaan iman seorang mukmin maka semakin baik akhlaknya.”

Begitu besarnya korelasi iman dan akhlak sehingga akhlak mendapatkan tempat tersendiri dalam ajaran Islam sebagai misi dakwah ini. Ini pun berkaitan dengan perkembangan waktu. Bila kita perhatikan perjalanan dakwah Islam memperjelas pernyataan tersebut. Pada awal dakwah perbuatan yang acap dilakukan masyarakat luas belum disentuh. Namun ketika dakwah ini mulai menguat segala perbuatan negatif yang dilakukan orang-orang itu dipersempit ruang geraknya meskipun perbuatan itu budaya dan tradisi mereka. Yang akhirnya mereka meninggalkannya tanpa harus dikekang.

Said ibnul Musayyab Rahimahullah mengajarkan muridnya akan penempaan akhlak pada keluarga secara bertahap. Dan tahapan yang bakal dilalui diberikan bobot yang lebih dari waktu ke waktu. Seperti nasihat Ustadz Nashih Ulwan dalam Tarbiyatul Awlad, agar pembobotan nilai dan norma yang diberikan kepada anak manusia semakin meningkat. Agar kualitas mereka dengan perilaku yang nampak semakin memberikan arti integritas bagi dirinya. Sehingga peningkatan dan pemuliaan akhlak yang dilakukan umat ini bisa mengokohkan eksistensi umat ini. Sebab hubungan antara akhlak umat dan eksistensinya juga amat erat. Seperti Allah swt. mengakui keberadaan dakwah ini melalui akhlak pengembannya. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Al-Qalam: 4)

5. Kegiatan Masyarakat

Kepedulian Islam terhadap aktivitas masyarakat sangat besar. Dari level yang tinggi hingga pada level yang rendah. Dari yang bisa dijangkau oleh akal maupun yang tidak. Doktrin yang dibangun pada jiwa umatnya ialah manusia yang paling baik adalah mereka yang bermanfaat pada banyak orang. Sehingga keberadaan antara satu dengan lainnya saling berhubungan. Malah saling mempengaruhi dan membutuhkan serta saling melengkapi. Yang menjadikan kehidupan umat manusia ini bagaikan satu bangunan kokoh yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Semua komponen masyarakat ini hidup untuk kepentingan bersama. Bentuk kebutuhan akan kesertaan yang lain dalam dinamika aktivitas masyarakat adalah saling tolong menolong sesama mereka.

Tolong menolong adalah karakter hidup umat manusia ini. Akan keringlah jiwa manusia kala ia hidup tanpa kesertaan yang lainnya. Dan sangat tidak mungkin manusia menghindari kesertaan yang lain dalam menjalani hidupnya. Diminta atau tidak keberadaan yang lain amat membantu menyelesaikan tugas hidup. Karenanya sosialisasi dalam hidup ini menjadi prinsipil. Kondisi bersosialisasi ini menjadi amat penting bagi jiwa manusia baik di kala sulit maupun mudah, di saat lapang maupun sempit. Orang bijak menyatakan apalah guna memiliki semua fasilitas hidup namun tidak ditemani seorang pun kawan.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (Al-Hujuraat: 10)

Perkembangan dalam aktivitas masyarakat ini sangat cepat. Sedikit terlewatkan kesempatan maka banyak yang membuat kita terputus informasi dan hubungan. Ini sebagai tanda dinamisnya kondisi masyrakat kita. Seorang teman berujar, sepekan saja kita tidak bermasyarakat maka kita perlu waktu yang cukup untuk bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada. Bila tidak kita bagaikan orang bisu yang tak mampu berkata-kata. Karenanya Rasulullah saw. memotivasi umatnya agar berani dan punya kemauan untuk berinteraksi dengan masyrakat. ‘Orang mukmin yang bergaul dengan masyrakat lebih baik dri pada mukmin yang tidak mau bergaul asalkan dia bersabar’. (HR. Muslim)

6. Perluasan Dakwah

Islam menjadikan setiap orang sebagai pemimpin dan bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan umat ini. Sehingga terwujudnya masyarakat yang nyaman dalam menjalani hidup. Dan hal ini amat dipengaruhi oleh tegaknya dakwah dengan amar ma’ruf nahi mungkar. Saling menasehati atas kebenaran dan kesabaran. Dengan demikian kondisi yang rusak, amoral dan kefasikan akan lenyap.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Fushshilat: 33)

Untuk merealisasikan cita-cita umat ini menegakan dakwah juga diperlukan perluasan seiring perkembangan yang terjadi. Apalagi kefasikan dan kemungkaran juga mengalami perkembangan. Perkembangan dakwah ini dalam artian yang luas. Yakni perkembangan segmentasi, bentuk dan metodelogi serta perkembangan media dan structural dakwah. Sehingga dakwah dapat bertahan dan mewariskan kemashlahatan bagi generasi seterusnya.

7. Peningkatan Produktivitas

Produktivitas merupakan sebuah upaya melanggengkan diri. Dari produktivitas ini dapat memberikan faedah bagi diri dan orang lain. Karena itu Islam selalu mengajarkan umatnya untuk selalu bekerja dan memakan hasil jerih payahnya sendiri. Islam tidak menyetujui umatnya tidak bekerja alias nganggur. Juga tidak membenarkan tergantung pada orang lain, meminta-minta dan menyusahkan hidup orang lain.

Bekerja yang diajarkan Islam bekerja secara seimbang antara dunia dan akhirat. Agar dimensi hidup yang akan dijalani meraih kebaikan yang sesungguhnya. Sebab tidak sedikit orang yang mendapatkan kebahagian semu. Ia mendapatkan kelimpahan dunia namun miskin dan sesak jiwanya karena tidak ada upaya untuk akhiratnya. Dan bagi orang mukmin kerja dunia ini sangat mempengaruhi kondisi akhiratnya.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al-Qashash: 77)

Ibrahim bin Adham memarahi muridnya yang mengambil sikap dari kondisi burung yang patah sayap dan kakinya dengan mengandalkan bantuan burung-burung lain. Namun beliau mengingatkan justru harusnya mengambil sikap dari burung-burung yang membantu itu. Ketika ia mencari karunia Tuhan namun ia tak pernah melupakan ada burung lain yang tak berdaya mencarinya sehingga perlu disisihkan untuknya.

8. Perkembangan Industri

Sesungguhnya kaedah mengambil semua sebab kekuatan yang dijelaskan dalam Al-Qur’an adalah kewajiban untuk mengambil semua unsur yang menguatkan perindustrian dalam semua bidang. Yang akan memberikan kebaikan kepada umat manusia dan bukan menghancurkannya atau merusaknya. Yang disebabkan salah penggunaannya. Atau produksi yang berlebihan yang menimbulkan menumpuknya limbah dan pencemaran lingkungan. Ini tentu sangat mengancam ekosistem hidup termasuk pada kehidupan umat manusia. Kehancuran alam raya karena tragedi pencemaran lingkungan.

“Sesungguhnya Kai telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya.Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hadiid: 25)

Ayat di atas menegaskan bahwa umat ini memerlukan perkembangan industri yang dinyatakan dengan kata ‘hadid’ yang berarti besi. Ia adalah lambing industri pada masa yang lalu. Namun yang harus dicamkan adalah penggunaan besi tersebut untuk kemajuan dakwah dan kehidupan manusia. Tentu dengan maraknya perkembangan industri yang terjadi. Dengan semakin pesatnya perkembangan industri ternyata dapat membawa kemajuan sebuah peradaban. Seperti yang dialami Eropa pada masa kebangkitan industri, renaissance. Mereka bangsa Eropa berjaya di hadapan bangsa-bangsa yang lain setelah keterpurukannya.

9. Perkembangan Manajemen

Islam merupakan sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek hidup. Sistem merupakan dasar menuju kesuksesan yang berkualitas, hasil dari amal dan akhlak yang baik sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah saw., “Sesungguhnya Allah menyukai salah seorang dari kamu yang jika bekerja ia kerjakan secara itqan (professional).” Arahan itu untuk meningkatkan taraf kinerja kaum muslimin. Agar mereka berbuat tidak asal-asalan. Melainkan dikerjakan dengan pola yang bagus. Karena profesionalisme dalam perkembangan zaman ini memberikan kemudahan dan kesuksesan.

Masalah profesionalisme dari penataan manajemen yang baik dan teratur bermula dari penciptaan makhluk-makhluk Allah swt. Semua ciptaan-Nya tidak ada yang cacat cela. Ciptaan Allah swt. nampak indah, teratur dan tertata sesuai dengan ketentuan. Bila diamati dengan seksama memang tidak dapat ditemukan sesuatu yang cela atau dengan penilaian buruk. Melalui penciptaan ini ilmu manajemen semakin berkembang. Agar manusia dapat bercermin darinya untuk menyelesaikan beragam qadhiyahnya dan menyikapinya dengan benar. Sebut saja misalnya ilmu manajemen tentang teori 6 topi. Teori ini untuk melihat sesuatu dengan 6 sudut pandang sehingga kita dapat menemukan kebaikan darinya dan yang terpenting dapat menyikapinya.

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah”. (Al-Mulk: 3-4)

Pengembangan dan pertumbuhan sebagaimana istilah tanmiyah ini untuk dapat diberdayakan bagi kemashlahatan umat ini (Al Istifadah). Disamping itu juga untuk memakmurkan alam raya ini sehingga tanmiyah itu betul-betul menyemarakkannya (At Ta’mir). Dan yang utama adalah pengembangan ini untuk memimpin dunia ini sehingga perjalanan yang sedang ditempuh dunia ini perjalanan menuju keselamatan dan kesejahteraan (Al Istikhlaf).

Tentu yang perlu ditimbang-timbang adalah tanmiyah ini dalam tarbiyah yang sedang kita jalan harus mengarah pada penegakkan dakwah sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini (Iqamatud Da’wah). Maka yang perlu diingat dai adalah bila tidak ada tanmiyah dalam diri Anda, maka yang akan Anda rasakan adalah kejumudan. Bersiaplah menyambutnya untuk segera mati dan binasa. Maukah?

sumber : dakwatuna.com

Bendera Setengah Tiang


Innalillaahi wa inna ilaihi roji'uun. Telah meninggal mantan Presiden Republik Indonesia yang berkuasa selama hampir 32 tahun, Bapak Soeharto. Terlepas dari kontroversi yang ada mengenai beliau, cukup pantas rasanya sesama manusia dan muslim mengucapkan turut berbela sungkawa dan mendoakan; mudah-mudahan Allah menerima amal kebaikan beliau dan mengampuni dosa-dosanya. Allah Maha Adil, Maha Hakim yang akan memberikan putusan bagi beliau.

Banyak yang merasa kehilangan, karena bagaimana pun sejarah bangsa dan negara Indonesia telah mencatat kehadirannya di dunia ini. Terserah versi sejarah dan warna tinta mana yang kita ambil. Bagi bapak dan mama saya, pak Harto adalah Presiden yang berhasil dan sangat layak dihormati, betapa tidak, pada masa pemerintahan beliau lah kedua ortu saya mengalami masa yang 'jaya' sebagai pengusaha konveksi. Hidup pengusaha! Saat-saat tahun 90-an industri tekstil sedang tumbuh2nya. Sampai-sampai konveksi-an bapak bisa ekspor ke Timur Tengah. Krisis ekonomi tahun 1997 (krismon istilah topnya) diikuti lengsernya beliau ternyata mengecilkan juga ekonomi kelas pengusaha menengah seperti bapak saya. Gampangnya, versi bapak; gara-gara Soeharto lengser, usaha bapak kolaps. Versi pedagangnya lagi; bapak bawa uang 10juta buat belanja bahan (kain, benang, risleting, dan alat konveksi lainnya deh) ternyata di tanah abang harga naik 3-4 kali lipat. Bapak bawa pulang lagi duit, ga jadi belanja. Berharap harga turun ternyata harga2 betah nangkring diatas.

Belum lagi pada saat beliau, dengan versi diktatornya, justru Indonesia lebih 'dihargai' oleh bangsa lain. Sekarang? aduuuh betapa inginnya dengan konsisten memotivasi diri dan seluruh rakyat untuk 'bangun', berlari, kerja keras, sehingga tidak tertatih-tatih mengejar teman2 lain di kelas Asia ini. Tentu sisi gelap beliau dalam versi sejarah lain juga ada. Penguasa tunggal, lambat laun jadi diktatorlah, pelanggaran HAM (dengan alasan apa pun tidak ada sisi pembenaran) dan lain-lain. Saya tidak ingin menuliskan sisi buruk beliau.

Sekali lagi, terserah versi sejarah dan warna tinta mana yang kita ambil. Tapi, cukup layak dan tidak susah kan untuk mengibarkan bendera setengah tiang?. Dengan versi niat dan kasus yang berbeda, bendera setengah tiang juga untuk menunjukkan kesedihan kita akan nasib saudara-saudara kita di Palestina. Kemarin kan bertepatan juga dengan munashoroh Palestina.

Leading in Crushes

"Kalian adalah pemimpin, maka kalian akan dimintai pertanggungjawaban. Penguasa adalah pemimpin, maka akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Suami adalah pemimpin keluarganya, maka akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin (rumah tangga suaminya), maka akan dimintai pertanggungjawabannya. Oleh karena kalian adalah pemimpin, maka kalian akan dimintai pertanggungjawabannya."(H.R. Bukhari-Muslim)

Mereka yang menjadi pemimpin di masa krisis, tetapi tidak menjalankan peran kepemimpinannya sesuai dengan krisis yang dihadapinya, pastilah akan tergulung dalam permasalahan itu, dan akhirnya tergilas habis. Kalaupun akhirnya ia menyadari bahwa ia tak mampu memimpin, setidaknya ia harus segera punya keberanian untuk undur diri dari posisinya (Robby Djohan, 2006).

Seorang pemimpin haruslah memiliki keseimbangan dalam pengetahuan, pengalaman, bakat memimpin serta hati nurani sehingga akan mampu bergerak cepat dan efektif dalam menguasai kondisi yang dihadapinya.

Tidak semua pemimpin terbukti bermakna bagi lembaganya, maupun bagi orang-orang yang dipimpinnya. Banyak pemimpin yang bahkan telah menghancurkan lembaga – baik itu Negara, organisasi politik, perusahaan ataupun perkumpulan – yang dipercayakan kepadanya, dan karenanya ia juga menghancurkan masa depan begitu banyak orang yang menjadi anggota dan bagian dari lembaga itu (Robby Djohan, 2006).

Salah satu hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah integritas. Menurut beberapa literatur, integritas adalah sikap empati dan kepedulian terhadap sekitar yang menumbuhkan cara berpikir dan berbuat yang sejalan, serta bertanggungjawab atas keputusan dan perbuatannya.

Tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Pemimpin yang baik memiliki kepekaan untuk menangkap adanya perubahan dan bergerak cepat untuk menyikapinya.

“Every change begins with a vision and a decision to take action”. Demikian kata David Bornstein. Setiap pemimpin harus membagi visi dan misinya agar orang yang berada dibawah kepemimpinannya mengetahui secara jelas sehingga tercapai common purpose, tujuan bersama. John C. Maxwell dalam "The Winning Attitude" menggambarkan, "orang berubah ketika mereka cukup sakit sehingga harus berubah; cukup belajar sehingga ingin berubah; cukup menerima sehingga mereka bisa berubah." Menurut Maxwell, pertama, pemimpin harus mengembangkan trust atau kepercayaan dengan orang lain. Jika anggota tim percaya kepada pemimpin, itu sudah cukup hebat. Dan jauh lebih hebat lagi jika justru pemimpin yang percaya kepada para anggotanya. Ujian praktis bagi seorang pemimpin adalah pertanyaan, "Bagaimana hubungan Anda dengan orang-orang yang Anda pimpin?" Kalau hubungannya positif, maka pemimpin itu telah siap untuk mengambil langkah-langkah berikutnya. Kedua, pemimpin harus membuat perubahan pribadi pada dirinya sendiri, sebelum meminta orang lain berubah. Para pemimpin sukses bukan hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, mereka memperlihatkannya! Orang meniru apa yang mereka lihat dari sang pemimpin. Tujuan pemimpin menjadi tujuan mereka. Sebagai pemimpin anda harus melaporkan dan menyampaikan apa yang perlu anda laporkan, bukan apa yang sebaiknya dilaporkan. Lalu rangsanglah anggota organisasi anda untuk berani pula menyampaikan apa yang perlu anda dengar, bukan apa yang ingin anda dengar. Ketiga, perlihatkan kepada tim anda bagaimana perubahan itu sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka. Sebab perubahan yang sedang kita lakukan saat ini adalah jalan terbaik bagi seluruh pihak, demi masa depan semua orang, bukan bagi anda sebagai pimpinannya. Kepentingan orang banyak itulah yang harus didahulukan. Keempat, beri mereka andil kepemilikan atas perubahan itu. Kalau orang kurang ikut memiliki suatu gagasan, mereka biasanya menentangnya, bahkan seandainya pun gagasan itu sebetulnya untuk kepentingan mereka yang terbaik! Pemimpin yang bijaksana memungkinkan pengikut bisa memberikan masukan dan menjadi bagian dari proses perubahan (http://www.gsn-soeki.com/wouw/?koleksi-artikel).


Dari literatur kepemimpinan dapat kita ambil contoh pemimpin transformasional, yaitu pemimpin yang memiliki beberapa hal berikut:

Ø Enabling others to act – mendorong orang lain untuk mampu bertindak.

Ø Modeling the way – memberi arahan dan contoh dengan tindakan.

Ø Encouraging the hearts – memberi semangat kepada pengikut dengan pendekatan personal, menjadi pendengar yang baik, menggunakan emotional intelligence misal dengan berpartisipasi dalam kegiatan bersama yang melibatkan orang-orang yang dipimpinnya.

Ø Communication leadership - menggunakan keahlian komunikasi yang efektif yaitu dengan menjadi pendengar yang aktif, questioner, membangun good conversation.

Ø Charisma or idealized influence – memiliki integritas dan dengan karisma yang dimilikinya mampu memberi bayangan kepada pengikutnya akan masa depan dan good hope.

Ø Inspirational motivation – memiliki alasan dan harapan akan masa depan serta mampu memotivasi pengikutnya untuk menghadapi perubahan.

Leading in crisis membutuhkan pemimpin yang visioner dan memiliki integrasi tinggi selain karakteristik lainnya. Leading in crushes (seperti gambaran kondisi Negara kita saat ini?) tentunya membutuhkan pemimpin yang ekstra empati dan mampu menumbuhkan spirit dengan pendekatan transformasional.

Intinya, pemimpin mesti memiliki kepekaan yang tinggi untuk ‘membaca’ kondisi sekitarnya dan menyikapi perubahan (to act) dengan bijaksana untuk mencapai tujuan bersama demi kepentingan semua pihak, terutama rakyat, yang dengan sadar atau tidak telah menitipkan amanah kepada para pemimpin mereka.

Grameen Bank-nya Muhammad Yunus

Ketika Sabtu malam (kemarin lusa) saya ‘kembali ke laptop’ (kulonuwun pak De Tukul, saya pinjam kata kuncinya nih) dan mulai membuka file-file kuliah, mencari-cari dimanakah gerangan update-an tesis, saya menemukan beberapa ‘catatan pelajaran’ yang berharga untuk di-share. Saya lupa mata kuliah Leadership dapat di semester berapa, tapi saya ingat mata kuliah ini merupakan salah satu yang saya suka. Banyak pencerahan yang saya terima dari para instruktur kelas leadership, instrukturnya terdiri dari Robby Djohan, Anh Dung (Andy) Do, dan Arman Harijanto. Nah, tugas UASnya berupa paper membahas topik pertanyaan sebagai berikut:

Please choose an Indonesian or foreign leader (in any field, such as business, politics, social, religious, etc.) which you admire. Please describe his/her traits of character, analyze and comment on his/her vision, mission and style of leadership. Please explain the reasons for his/her successes and/or his failures. Please also explain what he/she has made as meaningful contribution to the company, and/or society.

Entah kenapa saat itu saya agak kesulitan mencari seorang tokoh pemimpin Indonesia (yang masih hidup, kalo yang sudah meninggal sempat terpikir M. Natsir – saya mengagumi beliau). Akhirnya saya memutuskan memilih salah satu tokoh leader dari Bangladesh yaitu Muhammad Yunus. Lalu mengalirlah pembahasan mengenai beliau sebagaimana saya sadur dari tugas paper UAS leadership saya (saat saya membuat paper ini Muhammad Yunus belum meraih penghargaan Nobel).

Salah satu tokoh yang saya kagumi adalah seorang ekonom dari Bangladesh yang mendirikan bank yang memberikan kredit mikro bagi rakyat miskin. Simpati saya kepada beliau adalah karena kepeduliannya dengan kondisi sekelilingnya dan tindakan nyata yang dilakukannya dalam rangka merubah hidup dan memandirikan rakyat miskin tersebut.

Beragam seminar sudah digelar dan telah banyak penelitian dilakukan dengan tujuan mencari cara efektif mengentaskan kemiskinan. Berbagai program yang memanfaatkan bantuan pemerintah dalam maupun luar negeri telah dijalankan untuk menghapus kemiskinan.
Tetapi, ternyata kemiskinan masih saja bisa ditemui di mana-mana. Inilah yang menjadi perhatian khusus dari tokoh yang saya kagumi. Kemiskinan di negaranya, Bangladesh, telah mendorong Professor Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank (village bank - Bank Pedesaan). Ternyata Bank ini sukses besar tidak hanya dalam kontribusinya mengurangi kemiskinan di Bangladesh, tetapi juga dalam meraih keuntungan dari kredit yang disalurkan.

Muhammad Yunus (lahir tahun 1940) adalah seorang doktor ilmu ekonomi dari Bangladesh yang menggagas konsep ’kredit mikro’, yaitu pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam dari bank umum. Yunus mengimplementasikan gagasan ini dengan mendirikan Grameen Bank. Namanya adalah personifikasi dari Grameen Bank Bangladesh yang kiat-kiatnya dalam mengentaskan kemiskinan dan memberdayakan perempuan banyak direplikasikan oleh berbagai Lembaga Keuangan Mikro di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Grameen Bank yang mulai merintis pelayanan keuangan pada rakyat miskin itu, terutama kepada para perempuan miskin, kini kliennya mencapai 3,2 juta keluarga miskin. Dari penelitian yang dilakukan, dilaporkan 42% keluarga yang dilayani telah keluar dari kemiskinan (2001).

Yunus belajar di Chittagong Collegiate School dan Chittagong College. Kemudian dia mendapat beasiswa Fulbright dan melanjutkan ke jenjang Ph.D. di bidang ekonomi di Universitas Vanderbilt, Nashville, Tennessee pada tahun 1969. Segera setelah menyelesaikan kuliahnya, ia bekerja di Universitas Chittagong sebagai dosen pada bidang ekonomi. Tahun 1972 dia menjabat sebagai Kepala Departemen Ekonomi di universitas tersebut.

Saat Bangladesh mengalami bencana kelaparan (1974), Yunus terjun langsung memerangi kemiskinan dengan cara memberikan pinjaman skala kecil kepada mereka yang sangat membutuhkan. Ia yakin pinjaman yang sangat kecil tersebut dapat membuat perubahan yang besar terhadap kemampuan kaum miskin untuk bertahan hidup. Pada tahun 1983, Yunus mendirikan Grameen Bank yang memberikan pinjaman kepada rakyat miskin. Hingga saat ini, Grameen Bank telah menyalurkan pinjaman lebih dari 3 billion dollar kepada sekitar 2,4 juta peminjam. Untuk menjamin pembayaran hutang, Grameen Bank menggunakan sistem ’kelompok solidaritas’. Kelompok-kelompok ini mengajukan pinjaman bersama-sama dan setiap anggotanya berfungsi sebagai penjamin bagi anggota yang lainnya sehingga mereka dapat berkembang bersama-sama. Prinsipnya adalah kepercayaan dan solidaritas.

Saat ini di Bangladesh, Grameen telah memiliki 1.084 cabang dengan 12.500 karyawan yang melayani 2,1 juta peminjam di 37.000 desa. Tingkat pengembalian pinjaman sebesar 98% merupakan rate tertinggi dibanding sistem perbankan manapun. Metode Grameen diterapkan dalam proyek-proyek di 58 negara termasuk AS, Kanada, Perancis dan Norwegia.

Saat ini selain Grameen Bank, ia memiliki Grameen Phone, Grameen Cybernet, Grameen Communications, Grameen Software company, Grameen Information Technology Park, Grameen Fund, Grameen Capital Management company, Grameen Textile company, Grameen Knitwear company, Grameen Renewable Energy company, Grameen Health company, Grameen Education company, Grameen Agriculture company, Grameen Fisheries and Livestock company, Grameen Business Promotion company .

Karakter Muhammad Yunus:

Muhammad Yunus merupakan teladan pribadi yang hebat. Dia mampu merasakan adanya kebutuhan orang-orang disekitarnya. Lantas ia menanggapi bisikan hati nuraninya dengan memanfaatkan ilmu, empati serta cintanya yang besar terhadap kemanusiaan dan kehidupan. Yunus menjawab kebutuhan banyak orang di sekelilingnya dengan solusi sederhana. Yunus menemukan suara panggilan jiwa dan mengilhami orang lain untuk menemukan kemerdekaan jiwa dan harga diri mereka. Muhammad Yunus, memprakarsai pendirian bank untuk kaum miskin ini melalui keprihatinannya terhadap perjuangan kaum pengrajin. Mereka menopang hidup dengan membuat barang kerajinan tapi untungnya sangat minim karena bahan baku diperoleh dari agen yang kemudian menentukan harga jual produk sesuai yang ditetapkan. Keprihatinan Yunus ditindaklanjuti dengan pendirian Grameen Bank -– yang tentu juga melalui proses perjuangan yang panjang -– dengan fokus untuk membantu kehidupan kaum miskin, bahkan pengemis.

Sosok ibu merupakan figur yang berpengaruh dalam kehidupan Muhammad Yunus. Ketika dia tumbuh dewasa dia melihat ibunya sering membuat perhiasan yang kemudian dijual dan sebagian uangnya diberikan kepada kerabat yang miskin. Hal ini menumbuhkan kesadaran pada diri Yunus bahwa hidup berkecukupan dan merasa cukup dengan apa yang ada, memungkinkan membantu orang lain yang kekurangan. Diantara sifat dan karakter Yunus adalah rendah hati, hidup sederhana yang berkecukupan (tak berlebihan), memiliki keyakinan kuat (keyakinan untuk berhasil) yang memompakan energi dan semangat luar biasa untuk berjuang meraih keberhasilan yang diyakininya tersebut. Masalah, hambatan, kesulitan, bahkan krisis ekonomi sekalipun tidak bisa mematahkan semangatnya untuk meraih keberhasilan.

Leaders’ Competence (Kompetensi Yunus sebagai seorang Pemimpin):

  1. The Mind:

§ Intelligence

Sebagai seorang professor ilmu ekonomi tentu Muhammad Yunus menguasai teori tentang membangun kekayaan dan kesejahteraan ekonomi

§ Pragmatic

Ilmu ekonomi yang dipelajarinya disesuaikan dengan kehidupan nyata disekitarnya karena Yunus merasa pelajaran yang diberikan kepada mahasiswanya tidak sejalan dengan kenyataan. Setiap dia keluar kampus selepas mengajarkan tentang ekonomi modern dia mendapati kesulitan yang dihadapi masyarakat

§ Integrity

Empati dan kepeduliannya yang besar cukup untuk menunjukkan bahwa Muhammad Yunus memiliki integritas sebagai seorang pemimpin

§ Self Confidence

Kepercayaan dirinya membuatnya mampu dan sukses membangun bank untuk rakyat miskin dan mengubah sistem dan prosedur perbankan yang sudah ada.

  1. Skills and Experience:

§ Technical dan Conceptual Skill

Yunus memiliki keahlian tehnis dan konsep untuk membangun ekonomi rakyat miskin dengan memandirikan mereka melalui pemberian pinjaman untuk modal

§ Social/Human Skill

Interaksinya dengan rakyat miskinlah yang menjadi pemicu dirinya untuk mendirikan Grameen Bank. Mulanya ia menanyai orang-orang miskin namun masih mau berusaha itu, hingga ia mendapat simpulan bahwa mereka membutuhkan modal. Dan lebih dari itu modal yang mereka butuhkan tidak besar, iapun mampu membantunya. Itulah awalnya Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank, yaitu bank yang memberikan pinjaman kepada kaum miskin Bangladesh tanpa jaminan.

  1. Behavior:

§ Trust. Kepercayaan merupakan dasar Yunus mau memperjuangkan pinjaman bagi rakyat miskin dan menjadi prinsip dasar Bank Grameen

§ Team Work. Solidaritas merupakan prinsip dasar kedua setelah trust. Yunus berpendapat bahwa kemandirian dan kesejahteraan harus dinikmati bersama

§ Respect. Bagi Yunus kemiskinan adalah hal yang tidak perlu karena itu rakyat miskin perlu diberi kesempatan untuk mendapat pinjaman untuk memberdayakan hidupnya dan mengangkat harga dirinya

§ Risk. Memberikan pinjaman kepada seseorang tanpa jaminan merupakan satu resiko yang harus dihadapinya. ‘To hope is to risk pain. To try is to risk failure. But risk must be taken, because the greatest hazard in life is to risk nothing’ (Leo F Buscaglia; 1924-1998)

Visi, misi dan gaya kepemimpinannya:

Sebagai seorang pemimpin yang visioner, Yunus memiliki impian:

’Kita mampu mewujudkan apa yang ingin kita wujudkan. Bila kita gagal mencapai sesuatu, kecurigaan saya yang pertama adalah keseriusan dan intensitas kita dalam mewujudkan keinginan tersebut. Saya sangat percaya bahwa kita mampu menciptakan sebuah dunia yang bebas dari kemiskinan, kalau kita mau….Dalam dunia semacam itu, satu-satu tempat dimana kita akan dapat menyaksikan kemiskinan adalah di museum. Pada suatu hari nanti, ketika anak-anak sekolah berkunjung ke musium kemiskinan, mereka akan terkejut menyaksikan kesengsaraan dan penderitaan umat manusia pada masa lalu’.

Itulah keyakinan dan mimpi yang dimiliki oleh seorang Muhammad Yunus.

Visinya adalah mengurangi sebisanya kemiskinan di dunia. ’Can we really create a poverty free world?’ Ya, ujar Muhammad Yunus dan dia yakin dia memiliki kuncinya, yaitu kredit (pinjaman). Misinya adalah mengurangi kemiskinan di Bangladesh dengan mendirikan Bank untuk rakyat miskin. Lalu beliau turun ke lapangan, terlibat dan mencoba memahami karakteristik masyarakat. Melalui action research, tokoh intelektual tersebut lalu merumuskan konsep-konsep pengembangan masyarakat. Tak sampai di situ saja, beliau juga meyakinkan pihak pemerintah, lembaga keuangan, dan lembaga (donor) internasional. Menurutnya, pinjaman atau kredit merupakan harapan terakhir bagi rakyat miskin. Yunus yakin bahwa hak untuk mendapat pinjaman harus diakui sebagai sebuah hak asasi manusia. Perhatian pada kemiskinan mulai muncul ketika Yunus kembali ke negaranya setelah meraih gelar doktor ekonomi dari Universitas Vanderbilt di Amerika Serikat. Setelah mengabdi di bidang pendidikan sebagai tenaga pengajar di berbagai universitas, Yunus merasa bahwa ilmu yang dibagikannya tidak bisa langsung berdampak pada pengurangan kemiskinan di negaranya yang makin menghebat. Kemudian ia mulai meneliti sebab-sebab kemiskinan yang dihadapi bangsanya. Ternyata, dari hasil penelitian terungkap bahwa sebagian besar pengusaha di Bangladesh kekurangan dana untuk produksi, sehingga mereka terpaksa meminjam dari rentenir dengan bunga tinggi, dan menjual barang produksi mereka ke rentenir tersebut yang lalu membelinya dengan harga murah. Masalah ini bisa terpecahkan jika ada lembaga keuangan yang bisa membantu. Dari kondisi inilah timbul ide untuk mendirikan Bank untuk membantu masyarakat pedesaan keluar dari masalah ekonomi mereka. Bisnis dengan tujuan mulianya ini ternyata didukung banyak orang, sehingga berjalan dengan sukses.

“Every change begins with a vision and a decision to take action”. Demikian kata David Bornstein. Cara pandang itu tentu bukan hanya ada di kepala para usahawan, melainkan juga para relawan yang berjuang dengan penuh dedikasi.

Sebagai pemimpin, Yunus menciptakan kesempatan, dia merupakan visionaris yang mementingkan kebutuhan rakyat miskin dan perubahan agar mereka lebih mandiri. Dia optimis dan mau berinteraksi dengan kaum bawah. Ilmunya didedikasikan untuk kemandirian ekonomi rakyat.

Alasan kesuksesannya dan atau kegagalannya
:
Dalam literatur tentang social change, kendati mereka melakukan perubahan yang sangat mendasar bagi masyarakat, mereka tidak pernah dianggap sejajar dengan Bill Gates atau Henry Ford yang mendatangkan banyak lapangan kerja. Masalahnya, teori-teori perubahan sosial lebih berkonsentrasi pada bagaimana ”ideas move people” daripada bagaimana ”people move ideas”.
Jadi bagi mereka, ide adalah segala-galanya. Padahal dunia ini baru akan berubah kalau ada orang yang bergerak, menggerakkan dan memelihara gerakan itu. Itulah yang dilakukan oleh Social Entrepreneur (Rhenald Kasali, 2005). Muhammad Yunus termasuk salah satunya.
Namun dalam literatur yang saya baca saya kurang melihat adanya penerus dari kepemimpinan Yunus ini sehingga ada kekhawatiran yang timbul bahwa Grameen group terutama Grameen bank di masa depan tidak seefektif saat ini.

Kontribusinya bagi masyarakat sekitarnya:

Solusi terbaik bagi masalah yang ada adalah kunci untuk jaman ini. Jika ingin membantu orang keluar dari masalah kemiskinan, jangan beri ikannya, tetapi berilah pancingnya. Prinsip inilah yang diterapkan oleh Yunus dalam membangun bisnisnya. Walaupun bisnisnya diilhami oleh keinginan mengentaskan kemiskinan, bukan berarti bank yang dikelolanya tersebut beroperasi tanpa profesionalisme. Sebaliknya, profesionalisme diterapkan dengan disiplin tinggi, sehingga Grameen menjadi bank yang secara komersial menguntungkan bagi pemiliknya, karyawannya, dan yang terlebih lagi adalah bagi para nasabahnya (yang pada umumnya adalah nasabah peminjam). Nasabah di Grameen tidak sekedar diberikan pinjaman saja, tetapi juga dibimbing dalam mengembangkan bisnis mereka dan dalam menyusun rencana strategis untuk meraih sukses dalam bisnis. Yunus menganjurkan para peminjam untuk membentuk tim yang terdiri dari lima pelaku bisnis yang secara rutin bertemu. Lima orang dalam tim ini menjadi mitra bisnis yang saling memberikan masukan, berbagi pengalaman, dan menentukan jumlah dana yang bisa digalang sendiri dan dana yang harus dipinjam dari bank, serta kapan pinjaman bisa dikembalikan. Cara ini terbukti efektif untuk membantu para pelaku bisnis untuk melewati garis kemiskinan dalam waktu sepuluh tahun setelah pinjaman pertama mereka.

Tujuan bisnis yang mulia serta pinjaman yang disertai solusi bisnis bagi para nasabah telah membawa Grameen, bank dengan 12.000 karyawan yang didirikan dan dipimpin oleh M. Yunus menjadi bank yang berperan penting dalam perekonomian rakyat Bangladesh, dan Bank dengan prestasi komersial yang baik.

Kutipan:

If I could be useful to another human being, even for a day, that would be a great thing. It would be greater than all the big thoughts I could have at the university. (Muhammad Yunus)

I only wish every nation shared Dr Yunus’ and the Grameen Bank’s appreciation of the vital role that girls and women play in the economic, social and political life of our societies. (US First Lady Hillary Clinton)

By giving poor people the power to help themselves, Dr Yunus has offered them something far more valuable than a plate of food. He has offered them security in its most fundamental form. (Former US President Jimmy Carter)

Sumber:

- Financial Times. December 6, 1998. London

- Finance & Development. March, 2000. USA.

- Marshall & Molly G. Sashkin, Leadership That Matters (Berrett-Koehler Publishers, 2003)

- Muhammad Yunus, Banker to the Poor: The Autobiography of Muhammad Yunus, Founder of Grameen Bank (Oxford University Press)

- Stephen R Covey, The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness

- Rhenald Kasali, Social Entrepreneur (www.detik.com/kolom/rhenald)

- The Times. November 27, 1998. London.

- The Guardian. December 6, 1998. London.

- Warren Bennis & Burt nanus, Leaders (New York: HarperBusiness, 1997)

- Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia

- www.bmm-online.org

- www.rahima.or.id

- www.sinarharapan.co.id/mandiri

- www.pikiran-rakyat.com